Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
30
Takdir yang Dibuat Ulang
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

“Menjauhlah dariku. Itu perintahc.”

Lelaki berpakaian hitam itu berdiri di sisi ranjang dengan tatapan sedingin bilah pedang. Sulaman perak di bahunya menangkap cahaya lilin, membuatnya tampak seperti tokoh yang keluar dari lukisan kerajaan. Alya menahan napas ketika lelaki itu berbalik dan meninggalkan kamar tanpa menjelaskan apa pun. Pintu tertutup, sementara satu pertanyaan berputar di kepalanya mengapa semua pelayan memanggilnya Lady Selena?

Beberapa jam sebelumnya, Alya masih berada di dunia modern. Ia mengingat suara rem, cahaya lampu yang menyilaukan, lalu kegelapan. Kini wajah asing memandangnya dari cermin. Rambut hitam panjang membingkai kulit pucat, sedangkan cincin di jarinya memuat lambang keluarga Valerius.

“Lady Selena, apakah Anda baik-baik saja?” tanya pelayan muda di belakangnya.

“Lelaki tadi siapa?”

Pelayan itu terbelalak. “Pangeran Kael Valerius, suami Anda.”

Sebelum Alya sempat bertanya lagi, tangannya menyentuh selembar kertas di bawah bantal. Tulisannya terburu-buru, seperti dibuat seseorang yang dikejar waktu.

Suamimu akan dikhianati dan dibunuh dalam tujuh hari. Jika kau tetap mendekatinya, kau pun akan mati.

Alya membaca kalimat itu berulang kali. Kael mungkin bukan siapa-siapa baginya, tetapi membiarkan seseorang mati setelah menerima peringatan terasa jauh lebih menakutkan daripada dunia asing ini.

Pada hari kedua, Alya mengikuti Kael menuju ruang pertemuan. Sang pangeran menghentikan langkah tanpa menoleh.

“Aku sudah menyuruhmu menjauh.”

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa seseorang akan membunuhmu.”

Kael berbalik cepat. Tangannya mencengkeram lengan Alya, bukan dengan kasar, melainkan seperti orang yang sedang menahan ketakutan.

“Siapa yang memberitahumu?”

“Sebuah surat.”

“Bakar surat itu dan tetaplah di kamar.” Kael melepaskannya. “Jangan percaya kepada siapa pun, termasuk aku.”

Meski pertemuan mereka singkat, Alya melihat kelelahan yang disembunyikan Kael. Bayangan gelap menggantung di bawah matanya, sedangkan jemarinya terus menyentuh gagang pedang seolah serangan dapat datang kapan saja. Lelaki itu tampak lebih kesepian daripada kejam. Untuk pertama kalinya, Alya bertanya-tanya berapa lama Kael menghadapi ancaman sendirian dan mengapa tak seorang pun berusaha berdiri di sisinya selama ini.

Jawaban itu justru memperkuat kecurigaan Alya. Malamnya, ia menyelinap ke ruang kerja Kael dan menemukan daftar pengiriman senjata bertanda tangan Adipati Severin, paman Selena. Di balik dokumen tersebut terselip denah ruang perjamuan dengan tanda merah pada kursi Kael.

“Mencuri sekarang menjadi kebiasaanmu?”

Alya menoleh. Kael berdiri di ambang pintu dengan pedang terhunus. Namun, sebelum ia menjelaskan, sebuah anak panah melesat dari jendela. Kael menarik tubuhnya ke dada, lalu menangkis panah itu dengan pedang.

“Kau terluka!” seru Alya ketika darah mengalir dari bahunya.

“Itulah sebabnya aku menyuruhmu menjauh.”

Kael menguncinya di kamar setelah tabib datang. Alya sempat mengira tindakan itu merupakan hukuman, sampai pelayan mudanya berbisik bahwa tiga orang pembunuh ditemukan di taman dekat kamarnya. Semua membawa lambang keluarga Severin.

Pada hari keenam, Lady Mirelle, putri Severin, datang membawa teh dan senyum lembut. Ia mengaku ingin membantu Selena melarikan diri sebelum pesta kerajaan berlangsung.

“Kael akan mati besok,” bisiknya. “Ayahku hanya ingin memastikan kau tidak ikut terbunuh.”

“Mengapa keluargamu ingin membunuhnya?”

“Karena setelah Kael menjadi pewaris takhta, tidak akan ada tempat bagi kita.” Mirelle menyodorkan botol kecil. “Tuangkan ini ke pialanya. Racun tersebut tidak berwarna dan tidak berbau.”

Alya menerima botol itu sambil menyembunyikan gemetar tangannya. Sekarang ia mengetahui cara, waktu, dan orang yang berada di balik rencana pembunuhan tersebut. Namun, untuk membuktikannya, ia harus membiarkan pesta tetap berlangsung.

Pada malam ketujuh, ruang perjamuan dipenuhi bangsawan. Kael duduk di samping Alya tanpa sekali pun memandangnya. Ketika pelayan menuangkan anggur, Mirelle memberikan anggukan kecil dari seberang meja.

Alya mengangkat botol racun itu. “Pangeran Kael, aku ingin menawarkan minuman terakhir untuk suamiku.”

Ruangan mendadak sunyi. Ia menuangkan cairan itu ke piala, lalu meletakkan botol di atas meja.

“Selena, jangan,” kata Kael pelan.

“Percayalah kepadaku sekali saja.”

Alya mengangkat piala tersebut ke bibirnya sendiri. Mirelle langsung bangkit dari kursi.

“Hentikan dia!” teriaknya.

Para penjaga mengepung meja. Alya tersenyum dan menurunkan piala yang belum sempat diminumnya. Kepanikan Mirelle adalah pengakuan yang dibutuhkannya. Kael segera memerintahkan prajurit memeriksa botol serta menangkap Mirelle dan ayahnya.

Adipati Severin tidak menyerah. Ia mencabut belati dari balik jubah dan menyerang Alya. Kael berdiri di depannya, tetapi ujung belati lebih cepat menembus sisi tubuh sang pangeran.

“Kael!”

Alya menangkap tubuhnya sebelum jatuh. Para penjaga menyeret Severin, sementara darah membasahi tangan Alya. Kael masih sempat menyentuh pipinya.

“Aku gagal menjauhkanmu dari bahaya.”

“Kau tidak pernah membenciku, bukan?”

Tatapan Kael melembut. “Aku membuat seluruh kerajaan percaya bahwa kau tidak berarti bagiku. Hanya itu cara agar mereka berhenti menjadikanmu kelemahanku.”

Air mata Alya jatuh. Seketika kepalanya dipenuhi potongan ingatan milik Selena: Kael menyelimutinya saat tertidur, berdiri semalaman di depan pintunya, dan menerima fitnah agar namanya tetap bersih. Ingatan terakhir memperlihatkan Selena menulis surat dengan darah sebelum dibunuh pada kehidupan sebelumnya.

Alya akhirnya memahami kebenarannya. Ia bukan orang asing yang merebut tubuh Selena. Ia adalah jiwa Selena yang pernah dilahirkan kembali di dunia lain, lalu dikirim pulang untuk memperbaiki takdir mereka.

“Kali ini kau tidak akan mati,” bisiknya sambil menekan luka Kael. “Aku sudah kembali untuk menyelamatkanmu.”

Tabib berhasil menghentikan pendarahan. Kael sadar tiga hari kemudian dan menemukan Selena tertidur sambil menggenggam tangannya. Ketika perempuan itu membuka mata, Kael menariknya ke pelukan.

“Apakah kau masih ingin aku menjauh?” tanya Selena.

“Tidak.” Suara Kael serak. “Kali ini, tetaplah bersamaku.”

Selena menatap mata lelaki yang pernah kehilangan hidup demi melindunginya. Takdir memang memberinya tujuh hari untuk memilih. Ia tidak hanya menyelamatkan Kael, tetapi juga menyelamatkan cinta yang dahulu terkubur oleh kebohongan.

Di luar jendela, fajar menyentuh menara istana. Selena merobek surat peringatan itu menjadi dua. Masa depan mereka tidak lagi ditentukan oleh tulisan lama, sebab kali ini, mereka akan menuliskannya bersama.

 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi