Jagani

Dalam suasana riuh. Masih terdengar dari dalam gudang penyekapan suara dentuman dan jeritan masa yang semakin lama semakin berkurang. Gelap mulai menelanjangi jalan-jalan, namun asap dan api itu masih dibiarkan menari dibeberapa titik sudut.

Jegani?

Bruk!! Suara debam itu terdengar keras tepat disampingnya. Sebuah balok kayu melayang ditelinga Phut—yang seketika terebah didepan Jagani. Darahnya mengalir dari mata.

La illaha illallah..” Parau suara itu merapal nama Tuhan. Jagani sama payahnya, selama hampir satu hari ia digantung, tak diberi makan sama sekali. Saat ini, hanya ia yang masih bertahan diantara lima lainnya.

“Beri kami nama.” Salah satu lelaki berpakaian ketat mendekati Jagani. Langkahnya gontai dengan alat penyetrum ditangannya. Wajahnya pias, tampak seluruhnya sama piasnya. Sehari yang lalu mereka menyeret kelima demonstran dan meminta satu nama. Hanya satu nama, tapi itu membuat mereka mati ketakutan.

“Jangan sia-siakan yang satu itu. Hanya gadis itu yang kita punya.”

2 disukai 334 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction