KELUARGA MILA

Gelap. Tapi ada panas yang samar di pelupuk mata. Matanya yang besar kemudian terbuka. Cahaya horizontal membentuk bayangan di wajahnya. Pada seragam TKnya yang acak-acakan, ada penunjuk nama Mila. Boneka beruangnya melekat dalam dekap.

Dengan satu jari, Mila mendorong pintu. Kakinya ke luar lemari dan menjejak di lantai dengan ragu-ragu. Kegelapan seketika berganti dengan sinar seolah nyalanya tungku. Pendengarannya menangkap teriakan dan sahut-sahutan yang riuh. Asalnya tentu saja pemilik suara bariton dan sopran yang beradu angkuh.

“Kamu egois,” kata Suara Bariton.

Suara Sopran membalas, “Kamu… aku… lemah,” dengan terputus-putus.

“Kamu sebagai istri harusnya nurut! Toh tinggal ngikutin aja.”

Isakan tangis berlangsung beberapa saat sebelum digantikan dengan suara seperti bantingan. Mila terkesiap.

“Aaargh,” teriakan tertahan meluncur dari Suara Bariton.

Bukan hanya bantingan, kali ini bunyi kaca pecah mengisi gendang telinga. Tidak hanya sekali, tetapi berentetan. Mila memegang dada seolah-olah menghentikan dadanya yang berdegup semakin kencang.

“STOP!” Ini kali Suara Sopran yang layangkan perintah.

Suara tamparan berbuah kesunyian.

Mila berjingkat-jingkat ingin mendekati tempat kejadian perkara.

“SINI KAMU!” Jeda semenit kemudian, “Aaargh,” teriak Suara Bariton.

Mila berhenti. Derap langkah bertalu-talu mendekati kamarnya. Mila kembali ke lemari. Tergesa-gesa menutup pintu agar dia tersembunyi dengan sempurna.

“Milaaa… Di mana kamu, Nak?”

Mila menutup mulut dan menahan perut agar napas tidak berembus.

Pintu lemari terbuka. Suara Sopran muncul di hadapannya. “Cepat, Nak. Ikut Mama. Kita harus pergi! Sekarang juga.”

Tangan Mila tertarik dan kakinya terserat ketika Mama menggandeng lengannya sampai-sampai boneka beruangnya terlepas. Keduanya silam dari pandangan.

Sunyi dan sepi menyelimuti.

Tidak sampai setengah jam kemudian, seorang laki-laki masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tegopoh-gopoh.

“Mila! Nak! Mila!” Suara Bariton meneliti seluruh ruangan termasuk pintu lemari yang hanya dipenuhi oleh baju-baju semata.

Bahunya melorot menyadari orang yang dia cari tak ada di sana. Dia menampak dan mengambil sebuah boneka. Terduduk lemas di salah satu kursi, dia menengadahkan kepala.

Tampaklah wajahnya yang penuh lebam dan goresan berdarah. Dahinya dibalut perban yang tidak dapat menyembunyikan bercakan merah. Dia meringis karena gembung pipi yang tidak juga mereda. Benaknya dipenuhi kebingungan yang melanda. Bagaimana jelaskan kepada dunia bahwa dia bukanlah pelaku dan harus menyelamatkan Mila?

6 disukai 1 komentar 2.6K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
😱🤩👍🏻
Saran Flash Fiction