Hidayah di Tepi Sungai

Kami berkenalan sewaktu aku memancing di tengah hutan. Hari itu dia marah besar begitu melihat botol air kemasan yang kubuang ke sungai, sampai-sampai aku menganggapnya orang gila. Dan, setelah kuperhatikan betul-betul wajahnya, ternyata dia memang orang gila yang kerap memungut sampah di hilir sungai, tempat orang ramai berekreasi di akhir pekan, dan aku membantu pamanku; pemilik sebuah warung makanan di situ.

Dia mengulurkan tangan sambil menyebut namanya segera setelah aku memberinya sebatang rokok: aku bermaksud meredam kemarahannya.

Akan tetapi, setelah aku lebih dekat mengenalnya, dia tidaklah gila. Dia cuma penyendiri yang menemukan kesenangan dan ketenangan dengan mengurus kebunnya. Selain menanam cabai, dia menanam sayur-sayuran di bawah beberapa pohon aren yang tumbuh sembarang di tanahnya yang terus melandai dan berakhir di sungai, tempat aku memancing.

Aku pun makin akrab dengannya, dan suatu hari aku melihat sebuah majalah tentang alam terselip di dinding pondok di kebunnya itu. Dia bilang dia mendapatkan "hidayah" karena berulang-ulang membacanya dan sejak itu dia mulai berjalan dari pantai ke pantai, dari hulu sungai hingga hilirnya, dari satu tempat rekreasi ke tempat rekreasi lainnya, hanya untuk memunguti sampah-sampah plastik.

"Minum?!" Dia mengeluarkan sejeriken arak buatannya, sadapan dari pohon aren di kebunnya.

"Tidak!"

"Kalau begitu minumlah nira ini." Dia mengambil sejeriken nira dari dalam pondoknya.

Dulu 'hidayah' datang pada suatu waktu untuk membuatku berhenti mabuk-mabukan, dan hari ini 'hidayah' lainnya menghampiriku agar tidak lagi membuang sampah di sembarangan tempat, batinku.

***

10 disukai 2.4K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction