Pemakaman Seorang Suami, Bapak & Kekasih

Tino membuka pintu dengan tiba-tiba dan mengejutkan Raya yang sedang duduk termenung dimeja kerjanya.

"Dia sudah datang." Ucap Tino tanpa melepas gagang pintu ditangannya seolah-olah menunggu jawaban dari kakaknya.

"Kamu yakin?" Raya berdiri dan berjalan mendekat kearah jendela lalu mengintip sedikit keluar dari balik tirai.

Tino mengangguk saat Raya menatapnya.

"Mulailah acara pemakaman bapak dan jangan beritahu ibu tentang kedatangannya, biar aku yang akan mengurusnya nanti."

Sekali lagi Tino mengangguk lalu menutup pintu.

Raya kembali mengintip dari balik tirai jendela, menatap sosok perempuan yang masih cantik diusia setengah abad lebih, duduk sendiri di deret paling belakang. Tampak raut sedih tergambar jelas dari wajahnya dan mata yang terlihat telah lelah mengeluarkan airmatanya.

Dan tak terasa air mata Raya pun ikut menetes, teringat pembicaraan terakhir dengan ayahnya seminggu lalu.

***

Raya memandang bapaknya yang menatap kosong kearah danau, mencoba menerka apa yang sedang dia pikirkan. 

Dia mencoba menahan titik air matanya agar tidak jatuh, memadang laki laki yang raga dan jiwanya telah kalah berperang melawan kanker prostat. 

Raya memeluk bapaknya sambil berurai air mata, tak peduli akan janjinya untuk tidak menangis lagi dihadapannya

Arif tersenyum dan membelai lembut rambut putri kesayangannya itu, mencoba menenangkannya. 

"Kamu sudah janji kan nduk?"

Raya hanya menganguk dan melepas pelukannya lalu mengusap air matanya.

"Ceritakanlah apa yang menurutmu terbaik untuk ibumu dan kedua adikmu." Arif menatap putrinya, "Bapak menyayangi kalian. " Lanjutnya lalu mendang kearah danau yang masih berkabut.

Raya memegang erat tangan bapaknya sambil mendengar dengan sabar bapaknya bercerita.

"Namanya Liana, seorang perempuan tionghwa tangguh yang masih bisa bangkit saat kehilangan keluarga dan hartanya waktu kerusuhan Mei. Dia buka kembali kedai keluarganya dan berhasil mengembalikan kejayaannya sampai saat ini. Dan semuanya bermula hanya dia dan bapak, yang waktu itu dia hanya mampu membayar satu orang karyawan. Mungkin karena sebelumnya bapak menjadi sopir pribadi keluarganya, dia percaya dan meminta bapak untuk membantunya. Rasa cinta itu muncul diantara lelah perjuangan kami setiap hari di kedai, hampir tiga tahun lamanya, hingga kami sadar kalau cinta kami tidak akan pernah sampai ke pelaminan. Perbedaan keyakinan dan usia tidak akan pernah memenangkan hati kakek dan nenekmu."

Arif terdiam sejenak.

"Kami berpisah karena bapak akan menikah, dan dia menepati janjinya menghilang dari hidup bapak. Sampai dia muncul kembali saat bapak mendekam dipenjara dan selama limabelas tahun, dia tidak pernah absen menjenguk bapak setiap minggunya. Dialah yang diam-diam merawat dan menjaga kalian selama limabelas tahun ini, menyekolahkan kamu, Tino dan Tono sampai selesai dan memberikan ibumu pekerjaan dikedainya."

"Dan dia menghilang kembali setelah bapak keluar dari penjara."

Arif menitikan air mata dan membuat Raya terkejut karena selama ini dia tidak pernah melihat bapaknya menangis.

"Dia akan datang saat pemakaman bapak nanti dan berjanjilah pada bapak agar dia bisa melihat bapak untuk terakhir kalinya."

Arif menatap Raya yang terisak dan memegang tangannya.

"Jangan biarkan dia sendiri dan kesepian. Dia yang selamanya mencintai bapak, tapi tak pernah bisa memiliki. Dia yang selamanya merindukan bapak, tapi tak pernah bisa memeluk."

***

Raya, ibunya dan kedua adiknya berdiri dan tersenyum dihadapan Liana.

"Dia menunggumu." Ucap Raya.

7 disukai 2.7K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction