Nyctophobia

Rani namanya. Siswa pindahan yang selalu tampil apa adanya.

Mustahil apabila seorang siswa di sekolah kota sana asing mendengar namanya, lantaran paras manis yang terlukis pada wajahnya yang mungil.

Keseharian dia habiskan dengan kegiatan sosial. Begitu cepat dia adaptasi, hingga dia tak sadar diri, bahwa kepopulerannya telah melebihi ekspektasi.

Tapi dunia ... tidak bekerja demikian.

Setiap tindakan ... ada dampak yang akan diberikan.

Para siswi di sana melontarkan tatapan sinis, apalagi para seniornya. Mereka tak senang menyaksikan Rani yang semakin dikenal, apalagi belakangan ini telah diangkat menjadi Duta Bahasa.

Tina adalah salah satu siswi yang membencinya. Sejak awal kedatangan Rani, Tina tidak pernah tersenyum manis padanya. Terlebih ... siswa idamannya saja malah berpaling pada Rani.

Malam ini adalah pelantikan pengurus OSIS. Tina yang berstatus sebagai kakak kelas, tak ingin menyia-nyiakan momen ini sebagai ajang balas dendam.

Pergilah Tina ke kantin pada sore hari. Bersama para pengikutnya yang turut menjadi panitia, mereka bersama-sama ingin menghukum Rani secara sepihak.

"Pokoknya nggak mau tahu, malem ini, manfaatin!" seru Tina pada mereka. Lantas semuanya mengiakan hal tersebut.

Tina ... meminta para panitia membujuk kelompok Rani ke toilet. Sementara itu, dirinya akan siap-siap melempar air dalam gayung, dilempar pada kloset samping melalui atas.

Hingga tiba pada suatu malam ... Rani bersama beberapa peserta lainnya dibujuk untuk pergi ke toilet guna mencari syal pengurus. Mereka menahan tawa, karena sebentar lagi Rani akan jatuh pada jebakan.

Lorong toilet itu gelap. Tak ada lampu, sementara jaraknya sangat panjang. Rani bersama beberapa panitia terpaksa pergi ke sana.

Tapi tak lama setelah itu, Rani malah menemukan syal tersebut, tanpa basah sedikitpun.

Para panitia ... hanya bisa ternganga.

Lantas mereka semua pergi ke toilet, hendak mencari tahu mengapa ini bisa terjadi. Tetapi saat dibuka kloset di mana Tina bersembunyi, hasilnya nihil. Tak ada siapa-siapa.

Bukannya melaporkan kejadian ini ... mereka malah saling menatap heran satu sama lain. Pergi begitu saja, tanpa bertanya-tanya.

***

Pada esok hari ... para siswa-siswi menghadiri sekolah seperti biasanya. Rani antusias segera pergi ke kantin. Tetapi dia merasa ada sesuatu yang janggal. Seorang kakak kelas yang selalu menatapnya sinis itu tak lagi dijumpai.

"Kak Tina ke mana ya? Kok nggak ada?" tanya Rani terheran pada gadis di sampingnya.

"Tina ... itu siapa, Ran?"

"Eh ... iya juga. Siapa ya?"

Semuanya menjalani hidup biasa-biasa saja. Seolah-olah tak ada sesuatu yang terjadi.

Mereka semua tak tahu ... bahwa Tina itu ada, dan itu adalah fakta.

Tina masih terperangkap dalam malam, berada persis di klosetnya yang sama.

Tina terheran-heran. Terasa berjam-jam terlewati, tapi tak ada yang kunjung mendatanginya. Bahkan dirasa-rasa, seharusnya ini sudah pagi.

Bukannya Tina terkunci, atau tak bisa keluar.

Lebih tepatnya ... dia tak mau keluar.

Lantaran dia sadar ... ada sesuatu di ujung lorong sana. Berdiri tegak menyeringai senyum dari balik kegelapan.

End.

1 disukai 161 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction