Ada Yang Ikut Berteduh

Namaku Adel, hobiku mendengarkan musik saat hujan deras tiba. Aku benci dengan suara-suara yaang sangat mengganggu. Tetapi, tetap saja aku tak bisa menghindarinya sekuat apapun itu. Mereka, selalu mengikutiku kemanapun aku pergi sebelum aku mendengarkan dan membantu menyelesaikan masalah mereka. Setiap tempat teduh, pasti ada ceritanya masing-masing.

Kejadian ini, telah dialami saat aku SMA dan sampai sekarang hal itu masih menggangguku. Kalian mungkin gak akan pernah percaya dengan apa yang aku katakan, kalian boleh menganggapku berhalusinasi. Aku pun pernah merasakan hal yang sama saat pertama kali mengalami hal ini.

Seminggu yang lalu, aku sedang menyelesaikan tugas di lab sekolah saat malam hari. Pencahayaan hanya dibantu oleh lampu yang ada di meja saja. Suasana lab begitu gelap, beberapa menit kemudian hujan deras disertai petir datang. Suara petir yang keras membuat aku takut dan secepat mungkin aku menyelesaikan tugas itu.

Namun, rasa kantuk ini benar-benar tak bisa ditahan. Tugas aku skip dulu, aku berjalan ke pantry untuk membuat secangkir kopi. Di sana, aku melihat seseorang sedang duduk sendirian. Ku pikir, Pa Toni (OB) belum pulang. Pas aku tanya..

"Pa, kopi hitam disimpan dimana?"

Tak ada sahutan, saat ke belakang, tak ada siapapun di tempat aku lihat tadi. Aku rasa, mungkin itu adalah sosok yang sedang berteduh. Aku akan coba ajak dia keluar dari tempat persembunyiannya dan coba bertanya.

"Siapa kamu? keluarr.

Hanya suara ketawanya yang bikin bulu kudukku berdiri, tetiba air menetes dari atas.

"Adelll"

"Apa mau mu?"

"Main sama aku, hihihi"

Aku merasakan air menetes dari atas, pas aku lihat sosok itu loncat dari atas lemari, jalannya merangkak dan mengejarku. Aku langsung lari, tanpa berpikir apapun, pintu yang seketika susah dibuka, aku dobrak dengan kerasnya. Ini yang aku takutkan dan paling malas dengan sosok yang menunjukkan keberadaannya hanya untuk menakuti manusia.

Aku lebih senang ketika membantu sosok yang kira-kira seumuran Bapakku. Dua hari yang lalu, aku sedang berteduh di depan rumah tua dan saat itu juga hujan lumayan deras. Tetiba, ada yang melempar batu kecil ke arahku. Saat menoleh ke belakang, ada Bapak-Bapak sedang melambaikan tangan, mengajakku untuk mengikutinya.

Sosok itu menatap mataku dari dekat, seolah membawaku ke masa lalunya.

Yang aku lihat, ada keributan di rumah ini. Istri dari Bapak ini datang untuk membawa anaknya kabur. Istrinya ini sedang mabuk dan membawa pisau di tangannya. Beliau mengamankan anaknya untuk ngumpet di dalam lemari, karena takut akan ketahuan oleh sang istri.

"Mana anakku?"

"Saya, gak akan menyerahkan Anna dengan mudah kepadamu. Kamu itu cuman penjudi, Tina"

"Ini semua, aku lakukan untuk Anna, Mas Rio. Coba kalau kamu gak di phk sebulan yang lalu, pasti kita gak bakalan kaya gini."

"Tetap saja, kamu gak bisa bawa Anna pergi dari sini."

"Kenapa Mas? aku bisa jagain Anna."

"Anna gak ada disini Tin, sebaiknya kamu pergi dari sini."

Mendorong istrinya agar lekas pergi dari sini, tapi yang ada, pisau itu tertusuk di jantung Bapak itu.

Sungguh miris tentang keluarga ini, kasihan anaknya. Aku langsung menemukannya di tempat yang sosok itu cerita, dia dalam keadaan tak sadarkan diri. Seketika, sosok Bapak itu menghilang dengan sendirinya.

581 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction