Ikhlas

Intan menatap kagum ia melihat gedung-gedung pencakar langit yang disinari cahaya mentari pagi. 

Ia tidak menyangka bisa menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di negara yang jauh dari kota kelahirannya.

Sejak lima tahun yang lalu Intan kagum kepada seorang pemuda yang berasal dari negara Turki. Setelah lima tahun mengumpulkan keberanian Intan pergi ke Turki untuk menemui dan mengutarakan bahwa ia sangat kagum kepada pemuda itu. Namanya Omar pemuda yang memiliki suara yang indah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Intan mengenal pemuda itu hanya lewat sosial media, ia tidak berani mengirim pesan atau berkomentar di sosial media pemuda itu, tapi di setiap doanya Intan selalu menyebut namanya dan berdoa agar ia dipertemukan dengan Omar dan akhirnya Tuhan mengabulkan doa-doa Intan selama ini. 

Setelah menelusuri alamat pemuda itu lewat sosial medianya, akhirnya Intan menemukan alamat rumahnya. Intan tidak dapat menahan senyumannya hatinya sangat senang dan bahagia tinggal beberapa langkah lagi ia bisa bertemu dengan sang idola.

Halaman rumah pemuda itu ramai dipenuhi banyak orang diiringi suara biola dan alat musik lain membuat suasana semakin damai. Intan tersenyum menatap ke depan ia ingin melihat acara apa yang sedang berlangsung. Intan melangkahkan kakinya dan tiba-tiba satpam menahannya, tidak mengizinkan Intan masuk. 

“Maaf Nona, kami tidak bisa membiarkan orang asing masuk, ini adalah perintah!” Ujar seorang bapak yang memakai jas putih yang menghampiri intan.

“Ini acara apa Pak?”

“Ini acara pernikahan Tuan Omar dan Nona Hazel. ” Ujar Bapak yang berbaju jas putih itu.

Jantung Intan berdetak kencang, badannya gemetar ia tidak menyangka kalau sang idola yang dicintainya dalam diam selama ini menikah. Di saat ia akan mengutarakan perasaan, kekagumannya, rasa yang teramat dalam yang dipendamnya selama ini, dan intan juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Omar, karena Intan telah banyak belajar banyak hal, walaupun mereka belum saling kenal tetapi Intan terinspirasi dengan konten-konten islami seperti bacaan Alquran, Shalawat dan lagu-lagu religi yang diunggah Omar selama ini, Intan banyak belajar.

Bulir bening itu jatuh dari pelupuk matanya, Intan memohon kepada Bapak berbaju jas putih untuk mengizinkannya masuk. Dan setelah Bapak berbaju putih meminta izin kepada Omar akhirnya Intan diizinkan masuk.

Intan berjalan masuk dengan langkah gemetar dan air mata yang bercucuran, menatap kejauhan sepasang pengantin yang berbahagia dan menghampirinya. Intan mulai bicara mengatakan selamat kepada Omar, dan mengutarakan isi hatinya.

“Hari ini adalah hari terbahagia dan hari tersedih yang pernah aku alami. Aku adalah salah satu penggemarmu, menatapmu kagum dibalik layar kaca, hingga akhirnya Tuhan mempertemukan kita, aku selalu berdoa agar Tuhan mempertemukan kita dan Tuhan telah mengabulkan doaku.. Dan hari ini juga aku melihat kenyataan kalau kamu telah menikah dengan perempuan secantik Hazel, jujur hatiku sangat terluka, tapi aku sadar ini semua adalah takdir yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa. Selamat berbahagia. Aku bersyukur bisa mengenalmu, secara tidak langsung kamu sudah mengubah hidupku menjadi berwarna. Selamat menjalani kehidupan baru. Sekarang aku mengerti arti cinta sesungguhnya yaitu mengikhlaskan.

Intan tersenyum menatap Omar dan Hazel. Sebelum tubuhnya jatuh ke lantai dan menghembuskan nafas terakhirnya. Intan telah pergi untuk selama-lamanya. 

1 disukai 683 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction