GENERASI IDIOT

Kunikmati santapan baksoku ini di sepulang sekolah. Memang karena lapar yang tak tertahankan, kusempatkan untuk makan bakso terlebih dahulu yang berada tepat di seberang sekolahku. Kunikmati setiap suap sambil melihat murid – murid lainnya keluar dari gerbang sekolah.

“Hmm … ada yang aneh.” Pikirku.

Kuperhatikan mereka yang keluar dari gerbang sekolah, lalu ada yang menarik perhatianku. Mereka berjalan secara berkelompok, tapi mereka semua fokus ke gadget yang mereka pegang saat ini.

Lalu, muncul temanku bernama Jaya yang berlari ke arahku dari gerbang sekolah. Saat ingin menyeberang jalan, dia menoleh kanan dan kiri terlebih dahulu. Setelah yakin bahwa jalan kosong, ia pun menyebrang jalan dan segera duduk tepat disebelahku.

“Ian, widiihh … enak, nih! Bang, baksonya 1 yak, pake saos dikit aja. Yang penting, biasa bang, micinnya agak banyakan, hehehe.” Ucapnya kepada abang bakso. Abang bakso pun menanggapinya dengan hanya mengucapkan “oke.”

“Kok lu gak nungguin gua, sih?” tanya Jaya yang pastinya kepadaku.

“Males banget gue nungguin lu piket. Mending ngebakso disini, iye gak bang?”

Abang bakso pun hanya tersenyum mendengar ocehanku.

Jaya yang sadar bahwa aku melihat suatu hal dengan cara yang aneh mulai terheran.

“Ian, lu ngeliatin apaan sih? Kok gitu banget cara ngeliatnya?”

“Jay, lu sadar gak? Kalo orang – orang nih udah dibudakin ama gadget.” Kataku sambil menunjuk orang – orang dengan sendok.

“Dibudakin gimana?”

“Ya … dibudakin. Lo liat aja tuh anak – anak yang lain, jalan berempat, berlima, tapi pandangannya ke HP semua. Gak ada tuh yang saling ngobrol gue liat.” Terangku.

“Itumah suka – suka mereka, Ian.”

“Tapi bahaya juga, men!”

“bahayanya?”

“Tuh tuh tuh … lo liat tuh orang yang mau nyebrang jalan.” Kataku sambil menunjuk 2 orang siswi yang ingin menyeberang jalan, namun pandangannya tetap ke HP mereka.

Saat mereka menyeberang, sudah tampak olehku angkot berwarna biru jalan di sepanjang jalan yang mereka sebrangi. Untung saja angkot tersebut berjalan secara perlahan sehingga mampu mengerem mobilnya dengan pas. Namun, supir mengklakson kedua orang tersebut, barulah mereka sadar.

“YEEE … GOBLOK LO! KALO GAK BISA BAWA MOBIL JANGAN JADI SUPIR ANGKOT!” teriak salah satu siswi itu dengan wajah menyeramkan.

“KALO NYEBRANG JANGAN LIAT HP NENG, LIAT JALAN. SEKOLAH YANG BENER MAKANYA!” balas supir tersebut.

“GOBLOK LO! IDIOT!” ujar siswi itu lagi. Mereka berdua pun segera berjalan menjauhi angkot itu dan mulai berjalan di trotoar. Sang supir juga kembali menjalankan angkotnya.

“Tuh, jay. Lu liat, kan?” tanyaku lagi pada temanku Jaya.

“Iye … liat gue. Terus?”

“Gimane sih, lu? Itu cewek berdua tadi bilang supirnya idiot, padahal yang idiot mereka. Soalnya nyebrang bukannya liat jalan, malah liat HP.”

“Masa kaya gitu aja dibilang idiot sih, ian?”

“Iyalah. Tindakan dia itu bukan cuma ngebahayain dirinya sendiri, tapi juga orang lain. Makanya kalau lagi berkendara atau jalan, atau sedang mengerjakan sesuatu, itu fokus! Jangan malah sambil main HP.” Jelasku panjang lebar.

“Ini, dek Jaya, baksonya.” Ucap abang bakso.

“Untung gue gak idiot kaya mereka.” Balas Jaya dengan yakin.

“Kalau lo mah idiot bukan karena HP, tapi gara – gara MICIN!” ucapku yang cukup keras di depan telinganya.

7 disukai 813 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction