Sajen

Tanah masih basah menyimpan tumpahan air dari langit. Ardhito merasakan pipinya dingin terkena hembusan udara yang turun dari Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, dan Gunung Guntur yang mengelilingi desa kecil di Garut itu. 

Seminggu belakangan, hampir setiap malam Ardhito makan di warung nasi milik Ceu Euis, penduduk lokal di kecamatan tempat ia menjalankan KKN. Mahasiswa semester tujuh itu sudah bosan dengan mi instan setelah tiga minggu berada di sana. 

Biasanya warung nasi itu hanya buka hingga menjelang Asar. Namun, di musim KKN, warung buka kembali dari pukul lima sore hingga delapan malam untuk menjaring pembeli musiman yaitu para mahasiswa yang datang dari beberapa universitas dalam rangka Kuliah Kerja Nyata. 

Ardhito tengah melahap santap malam sederhana yang terasa nikmat, saat kembali matanya tertumbuk pada sebuah bungkusan nasi rames yang diletakkan di lantai, di dekat tiang yang menyangga kanopi warung makan. Pemandangan rutin yang ia rasa aneh itu selalu menggelitik rasa ingin tahunya. 

Ulah bingung, JangEta mah si Bapak sajenan. Biar enggak diganggu ceunahSaha nu ngagangguTeu aya! Bapak ajah penakut.”  Pertanyaan yang hanya tersimpan di pikiran Ardhito terjawab dengan sendirinya oleh Ceu Euis. Sementara Mang Asta, sang suami terlihat sibuk membuat kopi, namun matanya yang berkali-kali melirik ke luar pagar membuat Ardhito ikut menoleh. Tak terlihat siapa pun di seberang jalan, hanya pepohonan yang masih bisa terlihat berkat bantuan cahaya bulan di langit bersih bertabur bintang. 

Mangga, Mang,” ucap Ardhito berpamitan. Sang pemilik nama yang sudah membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba terlihat kaku dalam tegaknya, wajahnya pucat pasi, matanya yang menatap lurus terlihat takut.

Ardhito menoleh. Seperti pada tiga kali kunjungan sebelumnya, kembali terlihat sosok anak laki-laki berwajah pucat, berdiri di bawah pohon pisang. Baru saja mahasiswa dari Bogor itu ingin bertanya, Mang Asta masuk ke dalam rumah, sementara istrinya melayani pengunjung yang baru datang.

Saat Ardhito keluar dari warung, anak berusia sekitar 10 tahun itu sudah pergi. Merasakan kantuk yang mulai menyerang, pemuda berambut ikal itu mempercepat langkahnya untuk pulang, melewati jalan sepi desa di kaki gunung. Tiba-tiba matanya menyipit.

Berjarak tiga meter, sosok anak laki-laki pucat tadi tegak berdiri. Tatapan anak itu mengandung arti. Rasa tak nyaman membuat Ardhito menggigil. Namun kedua kakinya seolah punya pikiran sendiri, tanpa keraguan mengikuti anak misterius itu hingga tiba di sebuah lahan terbuka dengan belasan makam tak terawat. Anak berwajah pucat itu berdiri tegak di pinggir sebuah makam yang terlihat masih baru. Jantung Ardhito terasa berhenti, anak itu tiba-tiba saja menghilang. 

Butuh tiga hari bagi Ardhito mengumpulkan keberanian untuk mendatangi Ceu Euis dan Mang Asta. Ia sama sekali tak menyangka ceritanya tentang sang anak misterius membuat Mang Asta menangis, mengakui dosanya sebagai pelaku tabrak lari yang menewaskan anak bernama Adi tiga minggu yang lalu.

Sejak kejadian itu, sosok anak pucat itu selalu hadir dalam mimpi Mang Asta, memintanya menyediakan nasi bungkus untuk ibunda Adi yang sedang sakit parah.

“Maapin Akang, Euis. Hampura, ya Allah ...” Pilu tangisan penyesalan dari bibir Mang Asta.

6 disukai 3 komentar 774 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Sama saya pun baru belajar, ada beberapa FFku yang horror : Kisah Untuk Dia , Kata-kata yang bernafas.
Hihihi, ini dalam rangka belajar berani sama yang berbau horor, Mas @Alwinn. Ternyata seru.
Merinding euyy
Saran Flash Fiction