Bahagia di atas 80 Tahun

"Ibu ... ngga apa-apa, Pak. Tekanan darah normal, gula normal, mata, pendengaran, jantung, paru-paru, pencernaan ... semuanya sehat dan berfungsi dengan baik. Tidak juga terindikasi covid. Ngga ada yang perlu dikhawatirkan. Yang terpenting, tidur yang cukup, makan teratur bergizi, dan isi hari-hari dengan kegiatan-kegiatan menarik dan menyenangkan, Pak, biar hati dan pikirannya selalu tenang dan bahagia," terang dokter kepada Adam, anak satu-satunya dari nenek Jelita, atau yang biasa disapa "Nenek Ita". 

Hari ini adalah hari ketiga nenek Ita berada di rumah sakit. Alhamdulillah, ia sudah diperbolehkan pulang. Adam dan Hawa, istrinya, sebenarnya sangat khawatir jikalau ibu mereka yang satu-satunya ini, sampai terkena covid atau penyakit-penyakit berat dan berbahaya lainnya jika ia sampai dirawat di sana. 

Usut punya usut, setelah beliau diajak bertemu dan berbincang dengan psikolog, beliau didiagnosis mengalami kebosanan dan kecemasan yang akut. Dampaknya adalah tidak nafsu makan, mudah lesu, lemah sulit tidur, dan gampang terbangun di tengah malam. 

Bagaimana tidak? Sebelum ini, di saat pandemi belum melanda, nenek Ita termasuk manula yang cukup aktif meski usianyan jelang 83 tahun. Tiga kali dalam seminggu, di tiap pagi pukul 5.30 beliau sudah berangkat naik ojek ke tempat senam lansia yang jaraknya tiga kilometer dari rumah. Bertemu, berkumpul, berbincang-bincang, dan bercanda tawa langsung dengan kawan-kawan seumuran tentu sangat asyik dan menyenangkan. Lalu siangnya, beliau ke pengajian yang berada di dekat tempat senamnya. Betapa bahagianya masa tua seorang nenek Ita yang masih dikelilingi orang-orang terkasih: anak, menantu, cucu-cucu, dan teman-teman sebayanya. 

Lalu di sore harinya, nenek Ita mengelola taman mini yang ada di halaman rumahnya. Ia menata, mengurus, membenahi, menyiram, dan merapikan pot-pot dan tanam-tanaman yang ia pelihara sejak sepuluh tahun yang lalu. Meski beberapa tanaman ada yang mati dan berganti, tetapi tetap ada keasyikan dan kenikmatan tersendiri menyaksikan mereka perlahan tumbuh, memunculkan tunas, ranting, bunga, dan buah yang baru. Tumbuh-tumbuhan itu senantiasa menyiratkan harapan dan keinginan untuk terus bertahan dalam hidup dan memberikan kemanfaatan yang maksimal bagi sesama dan lingkungan sekitar. Begitulah yang nenek Ita rasakan ketika berinteraksi dengan tanam-tanaman kecintaannya itu. 

Namun, sejak pandemi menggerus sebagian besar aktivitas luar, beliau menjadi tak bergairah lagi. Sudah pasti, ia kehilangan banyak warna, sensasi, dan rasa akibat memadamnya aktivitas-aktivitas sosialnya di luar rumah. Ia banyak termenung, cepat jenuh, diam, dan gampang cemas. 

Adalah ... satu-satunya solusi terbaik yang paling mungkin dilakukan oleh nenek Ita: menerima keadaan dan belajar keterampilan baru supaya meski berkegiatan di rumah saja, tetapi hasrat hidup dan bahagianya senantiasa terisi. 

Beliau lalu dibelikan laptop dan smartphone. Nenek Ita yang tadinya anti sekali dengan gadget, perlahan menerimanya dan belajar mengoptimalkannya. Dari sana beliau mengenal youtube, belajar bahasa Inggris, menggambar, melukis, memotret tumbuh-tumbuhan kesayangannya, dan mencoba resep-resep masakan baru. Alhasil, dalam waktu enam bulan, beliau berhasil membuat dan memimpin komunitas lansia online se-kota madya. Karena begitu banyak berkah dan manfaat yang didapatkan dari komunitas ini, tak disangka-sangka, ternyata, anggota-anggotanya terus bertambah dan meluas, di mana fokusnya adalah mengayomi dan menemani sesama kawan lansia agar tidak merasa sendiri dan senantiasa sehat dan bahagia hingga akhir hayatnya. 

4 disukai 1.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction